Membingkai
Takdir
Dia masih berdiri
menghadap ke bangunan itu. Layaknya mercusuar yang berdiri kokoh menghadap lautanya. Bangunan gaya klasik itu seakan
menjadi lautan biru maha luas yang menyimpan segala rahasia dan ke-kompleks-an
permasalahan mulai dari pantai hingga ke palung terdalamnya. Dibalik semua itu ia
juga menampakkan sebuah biru ketenangan, membuat si mercusuar tersebut tetap
berdiri kokoh dan mengintai siapa saja yang hendak mengobak-ngabik biru
ketenangan yang menjadi sumber bagi pesisir sekitarnya. Bahkan lebih dalam lagi,
si biru itu menjaga keseimbangan dunia dengan segala kesemrawutan daratan yang
menjadi pijakan sebagian besar maklhuk-maklhuk pelupa daratan itu.
Seorang berperawakan
kurus itu kini berjalan menyusuri jalan aspal warna hitam yang membentang
mengikuti pola bangunan tua khas jaman Belanda tersebut. Irama langkah sepatunya
semakin cepat, diiringi beberapa kali aksen pandanganya mengintai cela-cela
tiang bangunan yang berada disisi kanan dari tempat ia berjalan saat ini.
Langkah kaki itu kurasakan
semakin cepat, sampai akhirnya membawaku pada sebuah gedung sederhana berjejer
dengan tingginya Tower Pertamina. Sebelum ia jauh meninggalkan langkahku,
kupanggil dia, satu, dua panggilan tak mampu menghentikan langkahnya, yang
ketiga kalinya barulah membuat langkahnya terhenti. Dengan terpaksa berlari
kuhampiri dia, gaya simple berbalutkan perawakan kurus sekarang terpampang
jelas dihadapanku, membuat naluri sosialku bergejolak ingin menyapa dengan
panggilan identitasnya. “Hei Nila..”, Sapaku. Ya.. orang itu bernama Nila, nama
yang cukup aneh bagiku jika disematkan pada sosok laki-lakinya.
Agendaku hari ini untuk
mendalami konsep Statistika di perpustakaan mendadak hilang begitu saja ketika
si Nila mengajakku makan ke kantin ditambah ia akan mentraktirku, maka sulit
bagiku untuk menolak tawaran itu. Sepanjang perjalanan menuju kantin
kuperhatikan tidak ada yang berubah darinya sejak terakhir kali kami bertemu
pada acara penyambutan GAMADA beberapa bulan yang lalu. Tetap dengan gaya
simple, jaket berkupluk, celana jeans, dan sepatu kets yang menunjukkan
identitas khas, tak ketinggalan guyonan segar yang selalu dapat membuatku
tersenyum dalam keadaan apapun.
Dikantin itu ia menunjuk
meja kosong yang berada di pojok dekat dengan kipas angin dengan ukuran lumayan
besar. Aku yang sejak tadi merasa gerah karena cuaca hari ini cukup panas
ditambah jilbab yang kukenakan hari ini bahanya lumayan tebal tak ku tolak saat
ia menawarkan untuk duduk disana. Setelah itu kami memesan dua jus jeruk dan
dua porsi omelet sebagai hidangannya kali ini.
Kami mulai membuka
percakapan, saling lempar pertanyaan dan sedikit berbagi kisah masing-masing.
Dari percakapan itu aku mengetahui bahwa Nila masuk kampus ini lewat jalur
beasiswa yang sama denganku. Aku sempat tidak percaya, jangan-jangan ia
melakukan kecurangan berkas, karena terlihat dari gaya bicara dan latar
belakang kebudayaanya tidak menunjukkan ketidak mampuanya dalam bidang ekonomi
yang menjadi salah satu syarat terpenting dari beasiswa yang sekarang ia
miliki.
Sepertinya ia menyadari
bahwa terdapat keraguan dalam diriku, dan tetap dengan gaya bicaranya yang
kadang-kadang ngelantur ia mencoba untuk meyakinkanku. Tetapi ekspresi
keraguanku masih tidak bisa ku sembunyikan, kurasa Nila menangkap hal itu,
sampai akhirnya ia mencoba membuka cerita dibalik rahasianya mendapatkan beasiswa
itu.
Sambil
memotong beberapa omelet menggunakan sendoknya, ia mulai bercerita.
“Aku selalu penasaran dengan takdirku.
Sampai saat ini tidak ada yang dapat aku percaya selain pengalaman-pengalaman
yang telah membentuk kehidupanku menjadi seperti ini. Masih tergambarkan dengan
nyata malam itu dimana aku, adik perempuanku yang saat itu menginjak kelas 3
SMP harus kehilangan semangat keremajaanya. Kakak perempuanku yang saat itu
memasuki semester 3 kuliah juga harus kehilangan semangat kemahasiswaanya. Selain
itu kedua orang tuaku terlihat jelas
menyembunyikan sebuah luka besar yang dengan sekuat tenaga mereka simpan
dihadapan anak-anaknya.”
Entah mengapa cerita itu menjadi sangat
menarik untuk aku ikuti, entah apa yang kurasakan saat itu, mungkin tergambarkan
dalam ekspresiku dan kurasa Nila mampu menangkap akan hal itu. Sembari
tersenyum dia mulai melanjutkan ceritanya lagi.
“Akhirnya tiba juga
saatnya, ibarat perputaran suatu roda, kini kita sedang berada dibawah nak”
kata-kata ibuku yang jelas menggambarkan bagaimana keadaan kami saat itu”
“Saat itu aku menginjak
kelas tiga SMA yang secara kedewasaan seharusnya sudah mulai terbentuk. Aku
berasal dari SMA IPS yang diajari masalah akuntansi dan ekonomi di sekolahku. Tetapi
aku merasa terlalu dini dan terlalu pahit untuk mengetahui bahwa dalam sebuah
bisnis semua asset yang kita punya harus dipertaruhkan, dan mungkin terlalu
dini bagiku untuk mengetahui cepatnya aliran kas dan kompleksnya masalah utang
piutang dalam sebuah perusahaan perdagangan, tetapi kenyataan itulah yang harus
aku ketahui.”
“Kata ayahku kala itu, “ini adalah
perjalan yang telah kita bangun selama kurang lebih 17 tahun, ini bukan akhir,
ini bukan awal, tetapi inilah yang saat ini harus kita hadapi, sebuah resiko
dalam usaha perdagangan, ada kalanya kita merasakan masa jaya, ada kalanya kita
harus berusaha dari bawah lagi”. keyakinan yang sangat besar dari ayahku untuk
mengantarkan tidur kami malam itu, tidur kami terakhir dibawah sebuah atap yang
sudah kita tempati dan kita dirikan bersama 12 tahun silam, sebuah perteduhan
dimana canda, tangis, dan tawa terhadirkan, dalam sebuah kebersamaan dimana
kita membangun dan merencanakan semua skenario perjalanan hidup masing-masing,
sebuah tempat dimana kami bisa mendapatkan semua materi yang kami butuhkan dan
kami inginkan.”
Aku menstop ceritanya sejenak, karena tiba-tiba
handphone ku berbunyi, setelah ku matikan dan ku silent aku meminta Nila untuk
mlanjutkan ceritanya kembali.
“Kini babak baru dalam
hidupku dimulai, bukan hanya dalam hidupku, tetapi juga keluargaku, 360 derajat
dari kehidupan kami sebelumnya. Dimana saat ini kami bertempat tinggal di rumah
yang berukuran 2 kali lebih kecil dari ukuran rumah sebelumnya, 2 kali lebih
pendek dari tinggi rumah sebelumnya, 2 kali lebih sulit untuk menjalani
hari-hari dibandingkan hari-hari sebelumnya”
“Rutinitas sehari-hari
juga tak seperti biasanya. Kini tak kudapatati lagi adikku dengan semangat
keremajaanya saat sarapan pagi sebelum berangkat sekolah. Tak pernah ku rasakan
lagi semangat kemasiswaan kakaku yang biasanya masih melekat padanya ketika
pulang kampung. Ayahku yang setiap pagi siap untuk menjalankan usahanya kini
terlihat bingung untuk memulai usaha apa lagi, dan yang paling terlihat berbeda
adalah ibuku, dulu aku masih bisa melihat ibuku menyiapkan sarapan pagi untuk
kami, tetapi saat ini sudah tak pernah lagi karena bahan untuk dimasak tidak
ada. Saat itu aku tidak tahu harus memposisikan diriku seperti apa, walaupun kenyataan
pahit sudah pasti akan menungguku dihari-hari berikutnya, tidak hanya dalam
keluargaku, lingkungan sekitarku, tapi juga dalam lingkungan pergaulanku. Tidak
semudah membalikan telapak tangan setelah hampir sekitar 17 tahun hidup dalam
kecukupan kini harus memulainya dengan serba keterbatasan.”
“Hari demi hari
berhasil kami lewati, tetap mencoba untuk menelan pil pahit kehidupan.
Sebagaimana fungsi daripada sebuah pil dan rasa pahit pada sebuah obat, semakin
pahit semakin dapat menyembuhkan, itu mulai aku rasakan pada keseharian kami,
kami menjadi sering duduk bersama hal yang jarang kami temukan sewaktu kami dulu dalam keadaan jaya. secara tidak
langsung ikatan emosional sebagai keluarga malah kita temukan dalam situasi
keterbatasan ini. Dulu kami mengenal keluarga hanyalah sebatas tinggal pada
satu rumah dan berinteraksi sebatas keperluan anak dengan orang tua. Tetapi
kali ini terasa berbeda sekali, aku melihat sisi lain dari ayahku yang selama
ini aku pandang dengan sosoknya yang egois kini aku dapat memandang ayah
sebagai pahlawan dan orang yang paling bijak bagi kami. Beliau mengatakan bahwa
salah satu alasan menjual rumah kami dan tidak mempertahankan usahanya adalah
karena kita, anak-anaknya. Sebenarnya bisa saja kami tidak sampai menjual rumah
untuk dapat menutupi utang usaha, tetapi daripada berhutang demi spekulasi yang
sudah sangat jauh keberhasilanya, lebih baik mengorbankan semua itu demi masa
depan yang pasti cerah kedepanya, yaitu dapat terus membiayaai anak-anaknya
sekolah. Beliau ingin anak-anaknya sekolah sampai kejenjang yang setinggi
tingginya, walaupun ayahku hanya lulusan SD dan ibuku lulusan SMP tapi mereka
tidak membatasi kami untuk dapat sekolah setinggi-tingginya. Beliau selalu
berpesan, “kami akan merasa berhasil jika bisa melihat anak-anak kami berhasil,
tugas kalian adalah belajar, jangan memikirkan masalah uang, masalah uang biar
kami yang mencarinya, itu sudah menjadi kewajiban kami sebagai orang tua.”
Kata-kata yang menurutku sangat ksatria dari seorang orang tua yang pada saat
itu belum mempunyai jaminan masa tuanya, tidak mempunyai apa-apa sebagai
tabungan, yang saat itu masih tinggal dalam sebuah kontrakan dan tidak ada
jaminan gaji setiap bulanya, yang saat itu pekerjaanya belum berjalan secara
konstan tetapi perjuangan pada anak-anaknya tak pernah terputuskan.”
“Tapi lagi-lagi kita hanya
bisa menskenariokanya, lagi-lagi jalan cerita tuhan lah yang harus kami jalani”
Ucapan Nila kali ini
terasa berbeda, saat itu jelas kurasakan terdapat tekanan Emosional dan
kekecewaan yang sepertinya telah lama ia simpan dalam kehidupanya.
“6 bulan berselang
setelah kepindahan itu belum terlihat suatu kemajuan dalam ekonomi kami. Saat
itu menjelang pendaftaran Kuliah, aku sudah menskenariokan bahwa kelak aku
harus mewujudkan cita-cita orang tuaku agar bisa melihat anaknya berhasil dalam
pendidikanya. Dan membungkam mulut-mulut yang selama ini tertawa ria diatas
keadaan kami yang seperti ini, karena aku sadar dalam sebuah bisnis segala cara
menjadi halal dilakukan untuk bersaing. Aku yakin faktor itu jugalah yang
membuat bisnis orang tuaku mengalami kebangkrutan, aku masih ingat betul fitnah
yang ditujukan pada keluargaku kala itu. Sampai saat ini aku masih mengingat
sosok pemfitnah itu.”
Sejenak aku merasakan
Sensasi emosional yang tidak biasanya, setiap kata yang diucapkan oleh Nila itu
seakan membawaku pada suatu kondisi yang sama beberapa tahun lalu. Mengingatkanku
pada sosok ibu yang menjadi pahlawan bagi keluargaku, aku yakin apa yang Nila
rasakan saat itu sama dengan kekecewaanku pada kejadian yang pernah menimpa keluargaku.
Bebarengan dengan
cuilan terakhir omeletnya Nila melanjutkan lagi ceritanya.
“Namun kejadian itu tak boleh menghentikanku. Semangatku
hadir kembali ketika pendaftaran itu sudah mulai dibuka, aku sangat bersemangat
karena membayangkan kebanggaan orang tuaku saat anaknya berani mengambil
pilihan kampus yang kata sebagian orang sangat ketat persainganya, lagi-lagi
aku sangat bersemangat saat itu, aku sangat bersemangat karena aku sudah
berjalan selangkah kedepan untuk mewujudkan cita-cita orang tuaku.”
“Tetapi lagi-lagi
skenario itu tak sesuai dengan cerita yang harus aku jalani. Respon yang aku
dapat dari orang tuaku justu mengubur semangatku, mereka melarangku kuliah di
sisni dengan alasan kondisi keluarga kami sudah tidak seperti dulu lagi”
“Aku tidak dapat menerima
alasan itu begitu saja, sejak kapan sesuatu yang dulu mereka pegang teguh
sekarang seperti tak berbekas lagi. Aku masih tidak bisa menerima itu. Yang
paling tidak aku setujui lagi mereka kini mulai beranggapan bahwa kuliah di
kampus besar itu hanya untuk orang-orang kaya, aku tidak habis pikir dari mana
mereka mendapat anggapan seperti itu. Saat itu kekesalanku dan pandangan
gelapku mulai muncul lagi. Ternyata gonggongan mereka yang telah menghancurkan
keluargaku belum cukup, kini mereka telah meracuni secara perlahan orang tuaku untuk
mengubur masa depan keluargaku habis-habis.”
“Namun tekatku untuk masuk ke sini sudah
bulat, ditambah dengan segala keraguan dan kekangan dari mereka menambah
motivasiku untuk membuktikanya. Akhirnya aku menemukan informasi beasiswa ini,
walaupun dari orang tua tetap tidak mendukung aku tetap harus membuktikan kalau
aku bisa kuliah disini dan membungkam mereka yang selama ini menertawakan kami.
Sekaligus menunjukkan pada orang tuaku bahwa tak ada alasan menggantungkan
impian karena ekonomi.”
“Terus sekarang keadaan keluargamu
gimana Nil ?” Tanyaku penasaran.
“Sekarang kami masih
tetap tinggal pada kontrakan kecil itu, kondisi ekonomi kami mulai menunjukkan
trend posistif. Orang tuaku sudah mulai membangun kembali usahanya, meskipun
hasilnya belum sebesar dulu. Tetapi semangat perjuangan mereka mulai tumbuh
lagi semenjak aku di terima di sini, dan mereka yang dulunya memandang keluarga
kami sebelah mata pasca kebangkrutan itu kini sudah tidak lagi beranggapan
seperti itu.”
“Kehidupan Memang
ibarat sebuah perputaran roda, kadang kita berada di atas kadang juga berada
dibawah, tetapi roda itu berputar membawa kehidupan yang terus berjalan,
dimanapun posisi kita, apakah itu diatas atau dibawah, janganlah itu menjadi
alasan untuk berhenti, karena kehidupan yang sebenarnya itu apabila kita mampu
untuk tetap berjalan dalam pendakian kesuksesan bersama roda kehidupan yang
terus berputar.”
Kata-kata terakhir yang
diucapkan Nila saat itu, sampai akhirnya kita menutup pertemuan itu karena
Adzan Dzuhur sudah berkumandang. Kita berpisah saat itu juga. Aku menuju ke
mushola untuk menjalankan kewajibanku dan kulihat Nila berjalan berlawanan
denganku dengan menyimpan beribu spekulasi yang tetap melekat padanya.
Setelah Sholat Dzuhur aku
teringat kembali semua cerita yang dituturkan oleh Nila tadi, Saat itu ku
temukan kembali semangatku untuk
menjalani hari-hariku. Semangat Nila dalam menjalani kebangkrutan yang
menimpa keluarganya dan menghadapi tekanan dari orang-orang sekitarnya yang
hampir menghentikan cita-citanya mengingatkanku pada sosok Ibuku. Sosok Ibu
yang harus menjalani perjalanan tanpa sosok suami. Mungkin terlalu sakit untuk
mengingat kejadian itu kembali tetapi itulah kenyataan yang harus aku alami.
Plato mengajarkan agar kita tidak terpaku
oleh kenyataan masa kini. Tanpa menghilangkan rasa hormatnya pada sang gurunya,
Aristoteles mengajar orang untuk menerima kenyataan yang ada ini sebagai
sesuatu yang sungguh-sungguh nyata, tetapi sekaligus mengajak orang untuk
mencari yang mutlak dibelakang semua itu. Sebuah kata-kata dari Nila yang
kudapat setelah pertemuan tadi sebelum ia berjalan menuju ke dunianya kembali.
“Aku
tidak dapat menghindari takdirku, tetapi aku akan membingkainya dengan skenario
indahku untuk melewatinya”
******