2/19/2013

Bapak VS Ayam Jantan


Bapak VS Ayam Jantan
Langit mendung kota Surabaya menampakkan kekuasaanya, semua seisi bumi Surabaya bersiap untuk menyudahi segala aktifitasnya dan bergegas menuju tempat perteduhanya karena sang langit telah menampakkan kuasanya untuk segera menurunkan hujannya. Walaupun hari belum mencapai larut tapi suasana kali ini telah melampaui larutnya suasana pada malam-malam biasanya. 

Di sisi lain keramaian orang yang mulai bergegas menuju tempat perteduhanya terdapat sisi paradoxs yang menjadikan malam di kota Surabaya kali ini tampak berbeda, dia tak memperdulikan apa yang kebanyakan orang lakukan, karena dia tidak seperti orang-orang kebanyakan yang mempunyai keajegan dalam hal pencarian.
Yaa.. esok dia harus dapat membuat istri dan ketiga anaknya tetap dapat makan, tetap dapat hidup dan tetap dapat berharap padaNya semoga esok bapak dapat memberikan kami makan lagi, agar kami tetap dapat meminta dan berharap padaMu. Harapan dan doa yang sangat ringkas terdengarnya. Tetapi saat ini hanya itulah yang mereka butuhkan, tak butuh sesuatu yang lain lagi selain harapan dan doa yang disandarkan lewat sang Bapak.

Mereka tidak pernah tahu apa yang dilakukan sang bapak setelah pamit selepas sholat isya’ berjama’ah itu, tetapi itulah yang selalu dilakukan sang bapak, yang mereka lakukan hanyalah mencium tangan beliau selepas salam dan mengamini doa –nya, doa yang tidak pernah terdengar oleh mereka bunyinya.. tetapi mereka yakin itulah doa yang selalu mereka amini supanya dapat tersampaikan kepada yang Maha Baik.

Selepas itu, anak-anak mereka tidur.. hanya istrinya yang selalu menyembunyikan peluh dibalik senyuman anak-anaknya, karena mereka tidak pernah menangis dan tidak diajarkan untuk menangis. Itulah pelajaran yang bisa mengantarkan anak-anak mereka tidur nyenyak dan tak pernah bermimpi buruk. Sang istri tak pernah tidur semalaman, sampai saatnya ia mendengar pintu rumah akan diketok lagi dan harapan besar dapat mencium tangan sang bapak lagi dan menjadi makmum bersama anak-anaknya untuk melaksanakan sholat subuh berjama’ah.

Malam itu langit seakan menunjukkan tanda-tandanya dari mendung dan hujan yang diturunkanya, bapak masih terlihat seperti biasanya dan juga istri dan ketiga anaknya.. sampai pada akhrinya kentongan dan adzan subuh telah berkumandang tetapi pintu rumah belum ada yang mengetuk hingga pada akhrinya sholat shubuh pada hari itu tanpa sang Bapak. Anaknya bertanya, sang Ibu hanya bisa tersenyum dan berkata, “tidurlah nak, esok bapak akan datang bersama matahari yang akan terbit menyinari kita.

Prasangka memang tidak bisa disembunyikan, sang istri mulai tak tenang dan hal itu diperjelas dengan berita di radio tentang tenggelamnya kapal perompak yang berniat membajak sebuah kapal very penyeberangan yang melewati selat Madura. Air mata tak dapat membohongi walaupun hati sudah berkata tidak.. sang anak mulai bertanya lagi, “Bapak dimana Bu?” lagi-lagi yang dapat diperbuat ibu itu hanyalah tersenyum dan dan berkata “Bapak akan datang bersama sinar matahari yang akan memberi kehidupan pada kita nak “ itulah jawaban yang diberikan kepada anaknya apabila si anak menanyakan tentang sang Bapak sampai pada waktunya sang anak dapat keluar dan menemukan arti dibalik sinar matahari yang selalu memberikan kehidupan bagi setiap makluk hidup di Bumi ini.

Ditulis pada hari Selasa 27 November 2012. Jam 03.36 di Sekitar Yogyakarta.

Membingkai Takdir

Membingkai Takdir

Dia masih berdiri menghadap ke bangunan itu. Layaknya mercusuar yang berdiri kokoh menghadap  lautanya. Bangunan gaya klasik itu seakan menjadi lautan biru maha luas yang menyimpan segala rahasia dan ke-kompleks-an permasalahan mulai dari pantai hingga ke palung terdalamnya. Dibalik semua itu ia juga menampakkan sebuah biru ketenangan, membuat si mercusuar tersebut tetap berdiri kokoh dan mengintai siapa saja yang hendak mengobak-ngabik biru ketenangan yang menjadi sumber bagi pesisir sekitarnya. Bahkan lebih dalam lagi, si biru itu menjaga keseimbangan dunia dengan segala kesemrawutan daratan yang menjadi pijakan sebagian besar maklhuk-maklhuk pelupa daratan itu.
Seorang berperawakan kurus itu kini berjalan menyusuri jalan aspal warna hitam yang membentang mengikuti pola bangunan tua khas jaman Belanda tersebut. Irama langkah sepatunya semakin cepat, diiringi beberapa kali aksen pandanganya mengintai cela-cela tiang bangunan yang berada disisi kanan dari tempat ia berjalan saat ini.
Langkah kaki itu kurasakan semakin cepat, sampai akhirnya membawaku pada sebuah gedung sederhana berjejer dengan tingginya Tower Pertamina. Sebelum ia jauh meninggalkan langkahku, kupanggil dia, satu, dua panggilan tak mampu menghentikan langkahnya, yang ketiga kalinya barulah membuat langkahnya terhenti. Dengan terpaksa berlari kuhampiri dia, gaya simple berbalutkan perawakan kurus sekarang terpampang jelas dihadapanku, membuat naluri sosialku bergejolak ingin menyapa dengan panggilan identitasnya. “Hei Nila..”, Sapaku. Ya.. orang itu bernama Nila, nama yang cukup aneh bagiku jika disematkan pada sosok laki-lakinya.
Agendaku hari ini untuk mendalami konsep Statistika di perpustakaan mendadak hilang begitu saja ketika si Nila mengajakku makan ke kantin ditambah ia akan mentraktirku, maka sulit bagiku untuk menolak tawaran itu. Sepanjang perjalanan menuju kantin kuperhatikan tidak ada yang berubah darinya sejak terakhir kali kami bertemu pada acara penyambutan GAMADA beberapa bulan yang lalu. Tetap dengan gaya simple, jaket berkupluk, celana jeans, dan sepatu kets yang menunjukkan identitas khas, tak ketinggalan guyonan segar yang selalu dapat membuatku tersenyum dalam keadaan apapun.
Dikantin itu ia menunjuk meja kosong yang berada di pojok dekat dengan kipas angin dengan ukuran lumayan besar. Aku yang sejak tadi merasa gerah karena cuaca hari ini cukup panas ditambah jilbab yang kukenakan hari ini bahanya lumayan tebal tak ku tolak saat ia menawarkan untuk duduk disana. Setelah itu kami memesan dua jus jeruk dan dua porsi omelet sebagai hidangannya kali ini.
Kami mulai membuka percakapan, saling lempar pertanyaan dan sedikit berbagi kisah masing-masing. Dari percakapan itu aku mengetahui bahwa Nila masuk kampus ini lewat jalur beasiswa yang sama denganku. Aku sempat tidak percaya, jangan-jangan ia melakukan kecurangan berkas, karena terlihat dari gaya bicara dan latar belakang kebudayaanya tidak menunjukkan ketidak mampuanya dalam bidang ekonomi yang menjadi salah satu syarat terpenting dari beasiswa yang sekarang ia miliki.
Sepertinya ia menyadari bahwa terdapat keraguan dalam diriku, dan tetap dengan gaya bicaranya yang kadang-kadang ngelantur ia mencoba untuk meyakinkanku. Tetapi ekspresi keraguanku masih tidak bisa ku sembunyikan, kurasa Nila menangkap hal itu, sampai akhirnya ia mencoba membuka cerita dibalik rahasianya mendapatkan beasiswa itu.
Sambil memotong beberapa omelet menggunakan sendoknya, ia mulai bercerita.
“Aku selalu penasaran dengan takdirku. Sampai saat ini tidak ada yang dapat aku percaya selain pengalaman-pengalaman yang telah membentuk kehidupanku menjadi seperti ini. Masih tergambarkan dengan nyata malam itu dimana aku, adik perempuanku yang saat itu menginjak kelas 3 SMP harus kehilangan semangat keremajaanya. Kakak perempuanku yang saat itu memasuki semester 3 kuliah juga harus kehilangan semangat kemahasiswaanya. Selain itu kedua orang tuaku  terlihat jelas menyembunyikan sebuah luka besar yang dengan sekuat tenaga mereka simpan dihadapan anak-anaknya.”
Entah mengapa cerita itu menjadi sangat menarik untuk aku ikuti, entah apa yang kurasakan saat itu, mungkin tergambarkan dalam ekspresiku dan kurasa Nila mampu menangkap akan hal itu. Sembari tersenyum dia mulai melanjutkan ceritanya lagi.
“Akhirnya tiba juga saatnya, ibarat perputaran suatu roda, kini kita sedang berada dibawah nak” kata-kata ibuku yang jelas menggambarkan bagaimana keadaan kami saat itu”
“Saat itu aku menginjak kelas tiga SMA yang secara kedewasaan seharusnya sudah mulai terbentuk. Aku berasal dari SMA IPS yang diajari masalah akuntansi dan ekonomi di sekolahku. Tetapi aku merasa terlalu dini dan terlalu pahit untuk mengetahui bahwa dalam sebuah bisnis semua asset yang kita punya harus dipertaruhkan, dan mungkin terlalu dini bagiku untuk mengetahui cepatnya aliran kas dan kompleksnya masalah utang piutang dalam sebuah perusahaan perdagangan, tetapi kenyataan itulah yang harus aku ketahui.”
“Kata ayahku kala itu, “ini adalah perjalan yang telah kita bangun selama kurang lebih 17 tahun, ini bukan akhir, ini bukan awal, tetapi inilah yang saat ini harus kita hadapi, sebuah resiko dalam usaha perdagangan, ada kalanya kita merasakan masa jaya, ada kalanya kita harus berusaha dari bawah lagi”. keyakinan yang sangat besar dari ayahku untuk mengantarkan tidur kami malam itu, tidur kami terakhir dibawah sebuah atap yang sudah kita tempati dan kita dirikan bersama 12 tahun silam, sebuah perteduhan dimana canda, tangis, dan tawa terhadirkan, dalam sebuah kebersamaan dimana kita membangun dan merencanakan semua skenario perjalanan hidup masing-masing, sebuah tempat dimana kami bisa mendapatkan semua materi yang kami butuhkan dan kami inginkan.”
Aku menstop ceritanya sejenak, karena tiba-tiba handphone ku berbunyi, setelah ku matikan dan ku silent aku meminta Nila untuk mlanjutkan ceritanya kembali.
“Kini babak baru dalam hidupku dimulai, bukan hanya dalam hidupku, tetapi juga keluargaku, 360 derajat dari kehidupan kami sebelumnya. Dimana saat ini kami bertempat tinggal di rumah yang berukuran 2 kali lebih kecil dari ukuran rumah sebelumnya, 2 kali lebih pendek dari tinggi rumah sebelumnya, 2 kali lebih sulit untuk menjalani hari-hari dibandingkan hari-hari sebelumnya”
“Rutinitas sehari-hari juga tak seperti biasanya. Kini tak kudapatati lagi adikku dengan semangat keremajaanya saat sarapan pagi sebelum berangkat sekolah. Tak pernah ku rasakan lagi semangat kemasiswaan kakaku yang biasanya masih melekat padanya ketika pulang kampung. Ayahku yang setiap pagi siap untuk menjalankan usahanya kini terlihat bingung untuk memulai usaha apa lagi, dan yang paling terlihat berbeda adalah ibuku, dulu aku masih bisa melihat ibuku menyiapkan sarapan pagi untuk kami, tetapi saat ini sudah tak pernah lagi karena bahan untuk dimasak tidak ada. Saat itu aku tidak tahu harus memposisikan diriku seperti apa, walaupun kenyataan pahit sudah pasti akan menungguku dihari-hari berikutnya, tidak hanya dalam keluargaku, lingkungan sekitarku, tapi juga dalam lingkungan pergaulanku. Tidak semudah membalikan telapak tangan setelah hampir sekitar 17 tahun hidup dalam kecukupan kini harus memulainya dengan serba keterbatasan.”
“Hari demi hari berhasil kami lewati, tetap mencoba untuk menelan pil pahit kehidupan. Sebagaimana fungsi daripada sebuah pil dan rasa pahit pada sebuah obat, semakin pahit semakin dapat menyembuhkan, itu mulai aku rasakan pada keseharian kami, kami menjadi sering duduk bersama hal yang jarang kami temukan sewaktu  kami dulu dalam keadaan jaya. secara tidak langsung ikatan emosional sebagai keluarga malah kita temukan dalam situasi keterbatasan ini. Dulu kami mengenal keluarga hanyalah sebatas tinggal pada satu rumah dan berinteraksi sebatas keperluan anak dengan orang tua. Tetapi kali ini terasa berbeda sekali, aku melihat sisi lain dari ayahku yang selama ini aku pandang dengan sosoknya yang egois kini aku dapat memandang ayah sebagai pahlawan dan orang yang paling bijak bagi kami. Beliau mengatakan bahwa salah satu alasan menjual rumah kami dan tidak mempertahankan usahanya adalah karena kita, anak-anaknya. Sebenarnya bisa saja kami tidak sampai menjual rumah untuk dapat menutupi utang usaha, tetapi daripada berhutang demi spekulasi yang sudah sangat jauh keberhasilanya, lebih baik mengorbankan semua itu demi masa depan yang pasti cerah kedepanya, yaitu dapat terus membiayaai anak-anaknya sekolah. Beliau ingin anak-anaknya sekolah sampai kejenjang yang setinggi tingginya, walaupun ayahku hanya lulusan SD dan ibuku lulusan SMP tapi mereka tidak membatasi kami untuk dapat sekolah setinggi-tingginya. Beliau selalu berpesan, “kami akan merasa berhasil jika bisa melihat anak-anak kami berhasil, tugas kalian adalah belajar, jangan memikirkan masalah uang, masalah uang biar kami yang mencarinya, itu sudah menjadi kewajiban kami sebagai orang tua.” Kata-kata yang menurutku sangat ksatria dari seorang orang tua yang pada saat itu belum mempunyai jaminan masa tuanya, tidak mempunyai apa-apa sebagai tabungan, yang saat itu masih tinggal dalam sebuah kontrakan dan tidak ada jaminan gaji setiap bulanya, yang saat itu pekerjaanya belum berjalan secara konstan tetapi perjuangan pada anak-anaknya tak pernah terputuskan.”
“Tapi lagi-lagi kita hanya bisa menskenariokanya, lagi-lagi jalan cerita tuhan lah yang harus kami jalani”

Ucapan Nila kali ini terasa berbeda, saat itu jelas kurasakan terdapat tekanan Emosional dan kekecewaan yang sepertinya telah lama ia simpan dalam kehidupanya.

“6 bulan berselang setelah kepindahan itu belum terlihat suatu kemajuan dalam ekonomi kami. Saat itu menjelang pendaftaran Kuliah, aku sudah menskenariokan bahwa kelak aku harus mewujudkan cita-cita orang tuaku agar bisa melihat anaknya berhasil dalam pendidikanya. Dan membungkam mulut-mulut yang selama ini tertawa ria diatas keadaan kami yang seperti ini, karena aku sadar dalam sebuah bisnis segala cara menjadi halal dilakukan untuk bersaing. Aku yakin faktor itu jugalah yang membuat bisnis orang tuaku mengalami kebangkrutan, aku masih ingat betul fitnah yang ditujukan pada keluargaku kala itu. Sampai saat ini aku masih mengingat sosok pemfitnah itu.”

Sejenak aku merasakan Sensasi emosional yang tidak biasanya, setiap kata yang diucapkan oleh Nila itu seakan membawaku pada suatu kondisi yang sama beberapa tahun lalu. Mengingatkanku pada sosok ibu yang menjadi pahlawan bagi keluargaku, aku yakin apa yang Nila rasakan saat itu sama dengan kekecewaanku pada kejadian yang  pernah menimpa keluargaku.
Bebarengan dengan cuilan terakhir omeletnya Nila melanjutkan lagi ceritanya.

 “Namun kejadian itu tak boleh menghentikanku. Semangatku hadir kembali ketika pendaftaran itu sudah mulai dibuka, aku sangat bersemangat karena membayangkan kebanggaan orang tuaku saat anaknya berani mengambil pilihan kampus yang kata sebagian orang sangat ketat persainganya, lagi-lagi aku sangat bersemangat saat itu, aku sangat bersemangat karena aku sudah berjalan selangkah kedepan untuk mewujudkan cita-cita orang tuaku.”
“Tetapi lagi-lagi skenario itu tak sesuai dengan cerita yang harus aku jalani. Respon yang aku dapat dari orang tuaku justu mengubur semangatku, mereka melarangku kuliah di sisni dengan alasan kondisi keluarga kami sudah tidak seperti dulu lagi”
“Aku tidak dapat menerima alasan itu begitu saja, sejak kapan sesuatu yang dulu mereka pegang teguh sekarang seperti tak berbekas lagi. Aku masih tidak bisa menerima itu. Yang paling tidak aku setujui lagi mereka kini mulai beranggapan bahwa kuliah di kampus besar itu hanya untuk orang-orang kaya, aku tidak habis pikir dari mana mereka mendapat anggapan seperti itu. Saat itu kekesalanku dan pandangan gelapku mulai muncul lagi. Ternyata gonggongan mereka yang telah menghancurkan keluargaku belum cukup, kini mereka telah meracuni secara perlahan orang tuaku untuk mengubur masa depan keluargaku habis-habis.”
“Namun tekatku untuk masuk ke sini sudah bulat, ditambah dengan segala keraguan dan kekangan dari mereka menambah motivasiku untuk membuktikanya. Akhirnya aku menemukan informasi beasiswa ini, walaupun dari orang tua tetap tidak mendukung aku tetap harus membuktikan kalau aku bisa kuliah disini dan membungkam mereka yang selama ini menertawakan kami. Sekaligus menunjukkan pada orang tuaku bahwa tak ada alasan menggantungkan impian karena ekonomi.”
“Terus sekarang keadaan keluargamu gimana Nil ?” Tanyaku penasaran.
“Sekarang kami masih tetap tinggal pada kontrakan kecil itu, kondisi ekonomi kami mulai menunjukkan trend posistif. Orang tuaku sudah mulai membangun kembali usahanya, meskipun hasilnya belum sebesar dulu. Tetapi semangat perjuangan mereka mulai tumbuh lagi semenjak aku di terima di sini, dan mereka yang dulunya memandang keluarga kami sebelah mata pasca kebangkrutan itu kini sudah tidak lagi beranggapan seperti itu.”
“Kehidupan Memang ibarat sebuah perputaran roda, kadang kita berada di atas kadang juga berada dibawah, tetapi roda itu berputar membawa kehidupan yang terus berjalan, dimanapun posisi kita, apakah itu diatas atau dibawah, janganlah itu menjadi alasan untuk berhenti, karena kehidupan yang sebenarnya itu apabila kita mampu untuk tetap berjalan dalam pendakian kesuksesan bersama roda kehidupan yang terus berputar.”

Kata-kata terakhir yang diucapkan Nila saat itu, sampai akhirnya kita menutup pertemuan itu karena Adzan Dzuhur sudah berkumandang. Kita berpisah saat itu juga. Aku menuju ke mushola untuk menjalankan kewajibanku dan kulihat Nila berjalan berlawanan denganku dengan menyimpan beribu spekulasi yang tetap melekat padanya.
Setelah Sholat Dzuhur aku teringat kembali semua cerita yang dituturkan oleh Nila tadi, Saat itu ku temukan kembali semangatku untuk  menjalani hari-hariku. Semangat Nila dalam menjalani kebangkrutan yang menimpa keluarganya dan menghadapi tekanan dari orang-orang sekitarnya yang hampir menghentikan cita-citanya mengingatkanku pada sosok Ibuku. Sosok Ibu yang harus menjalani perjalanan tanpa sosok suami. Mungkin terlalu sakit untuk mengingat kejadian itu kembali tetapi itulah kenyataan yang harus aku alami.
Plato mengajarkan agar kita tidak terpaku oleh kenyataan masa kini. Tanpa menghilangkan rasa hormatnya pada sang gurunya, Aristoteles mengajar orang untuk menerima kenyataan yang ada ini sebagai sesuatu yang sungguh-sungguh nyata, tetapi sekaligus mengajak orang untuk mencari yang mutlak dibelakang semua itu. Sebuah kata-kata dari Nila yang kudapat setelah pertemuan tadi sebelum ia berjalan menuju ke dunianya kembali.

“Aku tidak dapat menghindari takdirku, tetapi aku akan membingkainya dengan skenario indahku untuk melewatinya”
******

2/04/2013

Flower Love in My Book (Dia Bernama Tiara)


Flower Love in My Book

Bagian 2
Dia Bernama Tiara...
Aku masih berdiri dengan memakai baju pasien memandang si bocah yang kini telah tidur lagi karena suntikan bius yang diberikan dokter itu.
“Tiara sudah mencoba melakukan ini..” kata ibu si bocah dengan suara terpatah akibat tangisnya.” Ini sudah yang kesekian kalinya dia mencoba Bunuh diri. Dan ini kejadian yang paling parah “ .
Aku semakin antusias berharap si ibu akan melanjutkan ceritanya.
“adek namanya siapa ? adek sakit apa? “ rasa keingintahuan ku terputus oleh pertanyaan itu.
“Nama saya Ihsan Bu, saya sudah sejak kemarin opname di rumah sakit ini, dalam proses penyembuhan penyakit magg saya” jawabku yang membuat si ibu ternsenyum entah apa yang ada di balik senyuman ibu itu.
Bergejolak dalam hatiku ingin mengetahui lebih jauh lagi tentang Tiara tapi lagi-lagi penyakit magg ku yang harus membuatku kembali istirahat di kamar inap ku..
“ma’af Bu, saya harus kembali ke kamar lagi, sudah waktunya Check IN “ ucapku,
“ow.. begitu.. baiklah dek, semoga lekas sembuh ya” sahut si Ibu..
“ Semoga Tiara juga lekas sembuh bu” balasku sembari memandang wajah tiara dan beranjak keluar dari ruangan itu.
Tiara..
kejadian yang aneh terus muncul semenjak aku bertemu dengan dia, menembus tabir hidup dan kenyataan dalam mimpiku, itulah yang membuat aku semakin ingin menguak hal yang terjadi dibalik kondisi tiara saat ini.
Kejadian ini terjadi ketika setelah 3 hari aku dirawat inap dirumah sakit itu, kini aku sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter. Terbesit keinginan untuk melihat tiara untuk yang terakhir kalinya sebelum meninggalkan Rumah sakit ini, tetapi yang terjadi setelah aku menuju ke kamarnya, ternyata ruangan itu kosong, ku dekatkan wajahku ke kaca pintu kamar itu dan menengok lebih dalam lagi dengan harapan masih ada sosok yang akan aku temui itu, tetapi hasilnya nihil.. pikirku mungkin Tiara sudah dibawa pulang oleh orang tuanya. “Ya sudahlah.. syukurlah” batinku sembari berjalan menuju balkon rumah sakit yang berada di lantai 2.
Aku duduk disana, ku lihat pemandangan kota dari atas balkon ini sembari mengeluarkan sebatang rokok, namun tiba-tiba dari belakang muncul tangan yang mengambil rokok yang sudah aku gigit itu.
“Minta Apinya.. “ dengan reflek tanpa menyadari ternyata suara permpuan yang meminta tadi,
aku menoleh guna memastikan dan menyaksikan siapakah si empunya suara itu
“Minta Apinya..” Kamu tuli ya.. aku bilang minta Apinya “ suara itu yang membuat aku terhipnotis dan langsung menyalakan api untuk rokok yang sudah berada diantara kedua bibirnya dan langsung di hisap oleh perempuan itu yang kemudian berdiri menghadap balkon membelakangiku sembari mengyemburkan asap rokok dari mulutnya.
 Saat itu yang aku rasakan hanyalah terperangah, karena wanita itu tidak lain adalah Tiara yang dua hari lalu masih terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit.
Ku nyalakan sebatang rokok lagi dan aku mencoba berdiri disamping Tiara. Selang 5 menit kami berdua hanya berdiri sambil menghisap rokok masing-masing tanpa  keluar sepatah katapun dan gerakan sekecil apapun, yang ada hanyalah sembulan asap rokok yang keluar dari mulut kami berdua.
Tiba-tiba muncul gerakan kecil dari tangan Tiara yang membuang putung rokok itu sembari berbalik dan meninggalkan aku sendiri, saat itu pandanganku tertuju pada putung rokok yang telah dibuang oleh Tiara, terasa berat dan bahkan seperti ada yang mencegah yang membuatku tak mampu untuk memandang wajahnya.
Sepuluh menit berselang dan sudah 3 putung rokok yang aku habiskan sambil tetap berdiri ditempat yang sama dan memikirkan mencoba menyadari hal yang baru saja terjadi.
 Tiba tiba muncullah dari belakang memeluk punggungku dengan keras yang membuat rokok yang aku hisap terlepas dari mulutku. Aku diam, bengong.. terdengar suara tangisan seorang wanita sembari berkata di sela-sela tangisanya itu.. “ Jangan pergi kakak.. Temani aku disini.. jangan pergi kakak, temani aku” itu yang dia katakan berulang kali sambil menempelkan wajahnya ke punggungku.”
Aku kenal sura ini” Batinku.. aku balik badanku dan ternyata benar. Itu Tiara.. aku tak dapat lagi berkata apa-apa, rasa ini bercampur antara kaget, sedih, takut, dan simpati.. yang terjadi Tiara pun semakin erat memeluk tubuhku dengan tetap menagis dan diilanginya kata-kata yang sama “ Temani aku kakak, jangan pergi “.. saat itu yang ku lakukan hanyalah diam dan membiarkan Tiara melepaskan emosinya di pelukanku.

Flower Love in my Book (Sebuah Awal)


Flower Love in my Book

Bagian 1
SEBUAH  AWAL…

“Dari pertemuan yang tidak sengaja  inilah semua berawal, awal aku mengenalmu, awal dari perjalanan cerita besarku, awal munculnya rasa itu..”




            Seorang pasien baru disebuah Rumah Sakit yang masuk karena percobaan bunuh dirinya, dia berontak dari dua perawat  yang mencoba membawanya keruang ICU karena sayatan luka dilengan kirinya, raut mukanya pun tampak pucat yang menandakan  telah banyak darah yang  keluar dari pembuluh nadinya.. sementara itu kedua orang tuanya hanya mampu menangis dan mencoba membujuk si bocah  perempuan itu agar bisa segera diobati. Ya.. pasien itu adalah seorang bocah perempuan yang umurnya kira-kira masih belasan tahun..
Semua ini berawal ketika dengan tidak sengaja aku melintas pada area itu.. terlihat si bocah itu kini telah mengangkat pisaunya dan mengancam akan menusuk siapa  saja yang mencoba menyentuhnya..  pada saat yang bersamaan aku melintas dan langsung di rangkul leherku oleh si bocah itu dengan menodongkan pisaunya dengan suaranya yang terbata-bata sambil berucap.. “Jika memang ini yang kalian inginkan, maka akan aku bunuh juga dia.. semuanya menyingkir dari aku..”
Sengan sedikit sisa kekuatanya bocah itu sedikit menyeretku secara perlahan mundur kebelakang. Aku yang pada saat itu kaget dan masih dalam keadaan kondisi tidak fit karena baru kemarin  aku masuk rumah sakit itu semenjak diiaknosa magg oleh dokter tidak mampu berbuat apa-apa dan hanya berharap semoga si bocah itu tidak sampai berbuat yang seperti diucapkanya..
Beruntung beberapa petugaspun mampu menangkap tangan dan melepaskanku dari sibocah itu, terlihat sibocah itu kini semakin lemas dan hampir pingsan dengan raut mukanya yang semakin memucat.
Tanpa ada yang menanyakan kondisiku dan hampir terkesan bahwa aku tidak dianggap hadir dalam peristiwa tersebut. semua petugas rumah sakit itu segera membawa si bocah itu kedalam ruang ICU,
Terlihat seorang wanita yang sepertinya ibu dari si bocah itu sudah tidak dapat lagi menahan tangisnya di pelukan suaminya sambil berteriak teriak.. “Dok, selamatkan anak kami dok..” yang diulang beberapa kali sehingga membuat  suasana pada saat itu semakin tak karuan..
Selepas kejadian itu, lobi rumah sakit yang merupakan tempat terjadinya kejadian tadi berangsur sepi. Akupun langsung menuju apotek tempat dimana seharusnya tujuanku semula untuk menukarkan resep yang harus aku tebus guna memperlancar proses penyembuhanku.
Saat ini aku sedang menjalani proses penyembuhan dari penyakit magg ku disalah satu rumah sakit di Jakarta, aku sudah dua tahun ini berada di kota ini untuk menyelesaikan pendidikanku di salah satu perguruan tinggi favorit yang berada di kota ini.
Syok masih melandaku atas kejadian tadi dan dengan langkah linglung mencoba kembali ke dalam kamar inap ku, pada saat kembali itu terdengar ada yang menyapa aku, dan setelah aku toleh terasa tak asing wajah yang menyapa aku, ya.. itu adalah orang tua dari si bocah tadi.. mereka menghampiriku dan meminta maaf atas kejadian yang menimpaku tadi, aku hanya bisa tersenyum mendengar permintaan maaf itu.
Ingin sebenarnya aku menanyakan kenapa bisa sampai terjadi seperti kejadian tadi, sebelum niatku itu terlaksanakan mereka sudah berlari menghampiri dokter yang baru keluar dari ruang ICU. Sebenarnya aku juga ingin mengetahuai keadaan si bocah itu tapi perutku sudah berasa kambuh lagi maka aku putuskan untuk segera kembali ke kamar inapku. Semanjak kejadian itu semalaman aku masih terus terbayangkan dengan kejadian yang menimpaku di depan lobi rumah sakit sore tadi.
****
Rasa penasarankau akan si bocah itu membuat aku memberanikan diri untuk menengoknya. Aku menuju ke ruang ICU tempat dimana si Bocah itu kemarin dirawat. Tapi ternyata dia sudah dipindahkan.
Aku mencoba bertanya pada perawat yang sedang berada disana.. ternyata kini dia dipindah rawatkan di ruangan kelas A, langkahku langsung ku arahkan menuju ke ruangan sesuai dengan petunjuk perawat tadi. Ternyata benar, tampak wajahnya yang sudah terlihat tidak begitu pucat lagi dari keadaan pertama kali aku bertemu kemarin. Dia terlihat sedang tidur dan tentunya dengan balutan perban di lengan bagian kirinya dan infus di tangan yang satunya.
ibunya seperti menyadari kehadiranku, dia yang semula duduk sambil menaruh kepalanya di ranjang tempat si bocah itu berbaring tiba-tiba melihat kebalik kaca pintu kamar itu dan tersenyum melihat kehadiranku yang sedang menatap si bocah.
Sembari itu dari belakang ada yang menepuk pundakku dan aku lihat sosok seorang laki-laki yang aku ketahui merupakan ayah dari si bocah itu. Kemudian dia mengajakku untuk masuk kedalam ruangan tempat si bocah itu tadi dirawat.
Kedua orang tua si bocah itu terlihat tersenyum yang seakan mengisyaratkan rasa syukurnya karena anaknya sudah berhasil ditolong. Sambil berkata “kondisinya sudah semakin membaik”. Akupun dengan spontan membalas senyum mereka dengan hati yang tiba-tiba merasa sangat lega selepas mendengar perkataan si ibu tadi.
Kriiingg…..
terdengar suara ponsel yang diikuti sapaan halo dari ayah si bocah tadi.. selepas menerima ponsel tadi si ayah berbisik kepada ibu dari bocah itu dan meminta padaku untuk menjaga putrinya sebentar karena mereka ada sesuatu hal yang harus mereka bicarakan diluar. Dengan tidak dapat menolak akhirnya mereka meninggalkan kami bedua kaluar.
Bocah itu cantik, berkulit bersih, dengan rambut lurusnya se bahu terlihat terawatt yang menegaskan bahwa si bocah itu berasal dari keluarga yang berkecukupan. 

Tak tau apa yang harus aku lakukan, aku hanya bisa memperhatikan si bocah itu dan sedikit tersenyum bila teringat kejadian kemarin.
Selang lima menit selepas ditinggalkanya aku oleh orang tua si bocah tadi,
 Tiba-tiba si bocah tadi bangun dengan raut muka tegang, dan dari raut muka itu aku dapat membaca ada yang tidak beres dari kebangunan si Bocah itu.. Ternyata benar. Si bocah itu teriak- teriak dan memandang aku sambil menujuk ke aku dan berkata dengan nada yang jelas.. “ Pergi kamu !! Pergi !! jangan mendekat ke aku !! ” sambil berusaha untuk turun dari ranjang tempat tidurnya. Aku yang setengah kaget mencoba menenangkan si bocah itu dan mencegahnya untuk turun dari ranjangnya. Aku berusaha memegang pundaknya dengan harapan dapat mencegahnya berontak, tapi karena kuatnya tenaganya aku tak mampu menahanya dan akhirnya dia jatuh kelantai sambil tetap teriak-teriak yang diikuti oleh tangisannya. Pada saat itu aku tak tau apa yang harus aku lakukan, si bocah itu tetap saja berontak, tanpa sadar aku telah memeluk dia dan dia menagis sambil tetap berontak dan berteiak-teriak.
Beuruntung perawat dan orang tua sibocah itu langsung masuk kemudian dokter langsung menyuntikkan obat bius yang membuat sibocah itu tertidur kembali. Keluar perkataan dari dokter yang menyatakan bahwa si bocah itu mengalami trauma. Kata – kata dokter itu membuat si iubu dari anak itu menagis jatuh kepelukan suaminya yang terlihat sangat menyesali atas kejadian yang terjadi pada putrinya tersebut.