2/04/2013

Flower Love in My Book (Dia Bernama Tiara)


Flower Love in My Book

Bagian 2
Dia Bernama Tiara...
Aku masih berdiri dengan memakai baju pasien memandang si bocah yang kini telah tidur lagi karena suntikan bius yang diberikan dokter itu.
“Tiara sudah mencoba melakukan ini..” kata ibu si bocah dengan suara terpatah akibat tangisnya.” Ini sudah yang kesekian kalinya dia mencoba Bunuh diri. Dan ini kejadian yang paling parah “ .
Aku semakin antusias berharap si ibu akan melanjutkan ceritanya.
“adek namanya siapa ? adek sakit apa? “ rasa keingintahuan ku terputus oleh pertanyaan itu.
“Nama saya Ihsan Bu, saya sudah sejak kemarin opname di rumah sakit ini, dalam proses penyembuhan penyakit magg saya” jawabku yang membuat si ibu ternsenyum entah apa yang ada di balik senyuman ibu itu.
Bergejolak dalam hatiku ingin mengetahui lebih jauh lagi tentang Tiara tapi lagi-lagi penyakit magg ku yang harus membuatku kembali istirahat di kamar inap ku..
“ma’af Bu, saya harus kembali ke kamar lagi, sudah waktunya Check IN “ ucapku,
“ow.. begitu.. baiklah dek, semoga lekas sembuh ya” sahut si Ibu..
“ Semoga Tiara juga lekas sembuh bu” balasku sembari memandang wajah tiara dan beranjak keluar dari ruangan itu.
Tiara..
kejadian yang aneh terus muncul semenjak aku bertemu dengan dia, menembus tabir hidup dan kenyataan dalam mimpiku, itulah yang membuat aku semakin ingin menguak hal yang terjadi dibalik kondisi tiara saat ini.
Kejadian ini terjadi ketika setelah 3 hari aku dirawat inap dirumah sakit itu, kini aku sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter. Terbesit keinginan untuk melihat tiara untuk yang terakhir kalinya sebelum meninggalkan Rumah sakit ini, tetapi yang terjadi setelah aku menuju ke kamarnya, ternyata ruangan itu kosong, ku dekatkan wajahku ke kaca pintu kamar itu dan menengok lebih dalam lagi dengan harapan masih ada sosok yang akan aku temui itu, tetapi hasilnya nihil.. pikirku mungkin Tiara sudah dibawa pulang oleh orang tuanya. “Ya sudahlah.. syukurlah” batinku sembari berjalan menuju balkon rumah sakit yang berada di lantai 2.
Aku duduk disana, ku lihat pemandangan kota dari atas balkon ini sembari mengeluarkan sebatang rokok, namun tiba-tiba dari belakang muncul tangan yang mengambil rokok yang sudah aku gigit itu.
“Minta Apinya.. “ dengan reflek tanpa menyadari ternyata suara permpuan yang meminta tadi,
aku menoleh guna memastikan dan menyaksikan siapakah si empunya suara itu
“Minta Apinya..” Kamu tuli ya.. aku bilang minta Apinya “ suara itu yang membuat aku terhipnotis dan langsung menyalakan api untuk rokok yang sudah berada diantara kedua bibirnya dan langsung di hisap oleh perempuan itu yang kemudian berdiri menghadap balkon membelakangiku sembari mengyemburkan asap rokok dari mulutnya.
 Saat itu yang aku rasakan hanyalah terperangah, karena wanita itu tidak lain adalah Tiara yang dua hari lalu masih terbaring lemas di atas ranjang rumah sakit.
Ku nyalakan sebatang rokok lagi dan aku mencoba berdiri disamping Tiara. Selang 5 menit kami berdua hanya berdiri sambil menghisap rokok masing-masing tanpa  keluar sepatah katapun dan gerakan sekecil apapun, yang ada hanyalah sembulan asap rokok yang keluar dari mulut kami berdua.
Tiba-tiba muncul gerakan kecil dari tangan Tiara yang membuang putung rokok itu sembari berbalik dan meninggalkan aku sendiri, saat itu pandanganku tertuju pada putung rokok yang telah dibuang oleh Tiara, terasa berat dan bahkan seperti ada yang mencegah yang membuatku tak mampu untuk memandang wajahnya.
Sepuluh menit berselang dan sudah 3 putung rokok yang aku habiskan sambil tetap berdiri ditempat yang sama dan memikirkan mencoba menyadari hal yang baru saja terjadi.
 Tiba tiba muncullah dari belakang memeluk punggungku dengan keras yang membuat rokok yang aku hisap terlepas dari mulutku. Aku diam, bengong.. terdengar suara tangisan seorang wanita sembari berkata di sela-sela tangisanya itu.. “ Jangan pergi kakak.. Temani aku disini.. jangan pergi kakak, temani aku” itu yang dia katakan berulang kali sambil menempelkan wajahnya ke punggungku.”
Aku kenal sura ini” Batinku.. aku balik badanku dan ternyata benar. Itu Tiara.. aku tak dapat lagi berkata apa-apa, rasa ini bercampur antara kaget, sedih, takut, dan simpati.. yang terjadi Tiara pun semakin erat memeluk tubuhku dengan tetap menagis dan diilanginya kata-kata yang sama “ Temani aku kakak, jangan pergi “.. saat itu yang ku lakukan hanyalah diam dan membiarkan Tiara melepaskan emosinya di pelukanku.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar