Flower Love in My Book
Dia
Bernama Tiara...
Aku
masih berdiri dengan memakai baju pasien memandang si bocah yang kini telah
tidur lagi karena suntikan bius yang diberikan dokter itu.
“Tiara sudah mencoba melakukan
ini..” kata ibu si bocah dengan suara terpatah akibat
tangisnya.” Ini sudah yang kesekian
kalinya dia mencoba Bunuh diri. Dan ini kejadian yang paling parah “ .
Aku
semakin antusias berharap si ibu akan melanjutkan ceritanya.
“adek namanya siapa ? adek sakit
apa? “ rasa keingintahuan ku terputus oleh pertanyaan itu.
“Nama saya Ihsan Bu, saya sudah
sejak kemarin opname di rumah sakit ini, dalam proses penyembuhan penyakit magg
saya” jawabku yang membuat si ibu ternsenyum entah apa
yang ada di balik senyuman ibu itu.
Bergejolak
dalam hatiku ingin mengetahui lebih jauh lagi tentang Tiara tapi lagi-lagi
penyakit magg ku yang harus membuatku kembali istirahat di kamar inap ku..
“ma’af Bu, saya harus kembali ke
kamar lagi, sudah waktunya Check IN “ ucapku,
“ow.. begitu.. baiklah dek, semoga
lekas sembuh ya” sahut si Ibu..
“ Semoga Tiara juga lekas sembuh
bu” balasku sembari memandang wajah tiara dan beranjak keluar dari ruangan itu.
Tiara..
kejadian
yang aneh terus muncul semenjak aku bertemu dengan dia, menembus tabir hidup
dan kenyataan dalam mimpiku, itulah yang membuat aku semakin ingin menguak hal
yang terjadi dibalik kondisi tiara saat ini.
Kejadian
ini terjadi ketika setelah 3 hari aku dirawat inap dirumah sakit itu, kini aku
sudah diperbolehkan pulang oleh Dokter. Terbesit keinginan untuk melihat tiara
untuk yang terakhir kalinya sebelum meninggalkan Rumah sakit ini, tetapi yang terjadi
setelah aku menuju ke kamarnya, ternyata ruangan itu kosong, ku dekatkan wajahku
ke kaca pintu kamar itu dan menengok lebih dalam lagi dengan harapan masih ada
sosok yang akan aku temui itu, tetapi hasilnya nihil.. pikirku mungkin Tiara
sudah dibawa pulang oleh orang tuanya. “Ya sudahlah.. syukurlah” batinku sembari
berjalan menuju balkon rumah sakit yang berada di lantai 2.
Aku
duduk disana, ku lihat pemandangan kota dari atas balkon ini sembari
mengeluarkan sebatang rokok, namun tiba-tiba dari belakang muncul tangan yang
mengambil rokok yang sudah aku gigit itu.
“Minta
Apinya.. “ dengan reflek tanpa menyadari ternyata suara permpuan yang meminta
tadi,
aku
menoleh guna memastikan dan menyaksikan siapakah si empunya suara itu
“Minta
Apinya..” Kamu tuli ya.. aku bilang minta Apinya “ suara itu yang membuat aku
terhipnotis dan langsung menyalakan api untuk rokok yang sudah berada diantara
kedua bibirnya dan langsung di hisap oleh perempuan itu yang kemudian berdiri
menghadap balkon membelakangiku sembari mengyemburkan asap rokok dari mulutnya.
Saat itu yang aku rasakan hanyalah terperangah,
karena wanita itu tidak lain adalah Tiara yang dua hari lalu masih terbaring
lemas di atas ranjang rumah sakit.
Ku
nyalakan sebatang rokok lagi dan aku mencoba berdiri disamping Tiara. Selang 5
menit kami berdua hanya berdiri sambil menghisap rokok masing-masing tanpa keluar sepatah katapun dan gerakan sekecil
apapun, yang ada hanyalah sembulan asap rokok yang keluar dari mulut kami
berdua.
Tiba-tiba
muncul gerakan kecil dari tangan Tiara yang membuang putung rokok itu sembari
berbalik dan meninggalkan aku sendiri, saat itu pandanganku tertuju pada putung rokok
yang telah dibuang oleh Tiara, terasa berat dan bahkan seperti ada yang
mencegah yang membuatku tak mampu untuk memandang wajahnya.
Sepuluh
menit berselang dan sudah 3 putung rokok yang aku habiskan sambil tetap berdiri
ditempat yang sama dan memikirkan mencoba menyadari hal yang baru saja terjadi.
Tiba tiba muncullah dari belakang memeluk
punggungku dengan keras yang membuat rokok yang aku hisap terlepas dari
mulutku. Aku diam, bengong.. terdengar suara tangisan seorang wanita sembari berkata di sela-sela tangisanya itu..
“ Jangan pergi kakak.. Temani aku disini.. jangan pergi kakak, temani aku” itu
yang dia katakan berulang kali sambil menempelkan wajahnya ke punggungku.”
Aku
kenal sura ini” Batinku.. aku balik badanku dan ternyata benar. Itu Tiara.. aku
tak dapat lagi berkata apa-apa, rasa ini bercampur antara kaget, sedih, takut,
dan simpati.. yang terjadi Tiara pun semakin erat memeluk tubuhku dengan tetap
menagis dan diilanginya kata-kata yang sama “ Temani aku kakak, jangan pergi “.. saat itu yang ku
lakukan hanyalah diam dan membiarkan Tiara melepaskan emosinya di pelukanku.
Tidak ada komentar:
Poskan Komentar